oleh Muhaimin Iqbal
(http://www.geraidinar.com/)
Mengenai timbangan yang adil ini pernah saya tulis dalam beberapa tulisan saya, antara lain tulisan tanggal 30 April 2008 ; demikian pula masalah resesi juga pernah saya tulis antara lain pada tulisan tanggal 01 Mei 2008 .
Kali ini saya akan menggabungkan keduanya untuk menjawab pertanyaan : tetap adilkah emas untuk menentukan harga barang dalam situasi resesi ?. Pertanyaan ini mengemuka karena istilah resesi bahkan stagflasi (stagnasi dan inflasi – lihat tulisan saya tanggal 27 Feb 2008 ) ramai dibicarakan para pelaku usaha di dunia saat ini.
Secara teknis sebenarnya definisi resesi adalah apabila terjadi pertumbuhan negatif dari GDP suatu negara dalam dua kwartal berturut-turut. Namun karena indikator GDP ini tidak sepenuhnya akurat maka berbagai pihak berusaha untuk mendeteksi resesi ini secara lebih akurat/ dini; agar dapat mengambil langkah-langkah perbaikan sebelum semuanya menjadi terlalu sulit.
Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) yang mendifinisikan bahwa resesi adalah ” Penurunan aktifitas ekonomi secara significant yang menyebar secara luas dan berlangsung beberapa bulan..” ; maka menurut definisi ini bisa saja saat ini kita sedang berada dalam kondisi resesi.
Dengan menggunakan definisi resesi dari NBER ini, World Gould Council (WGC) dua hari lalu mengeluaarkan hasil risetnya tetang perilaku harga emas pada masa-masa resesi.
Berdasarkan kriteria resesi dari NBER, dunia telah mengalami 5 kali resesi (6 kali apabila yang sekarang juga dimasukkan sebagai resesi) sejak tahun 1971 – tahun dimana dunia melepaskan diri dari emas sebagai standar mata uang.
Dari penelitin harga emas yang dilakukan WGC selama masa-masa resesi yang terjadi antara Nov 73- Maret 73 ; Jan 80- Jul 80; Jul 81-Nov 82 ; Jul 90- Nov 91 dan Mar 01-Nov 01 ; ternyata terbukti harga emas secara global tidak terpengaruh oleh resesi-resesi tersebut.
Hasil penelitian menguatkan keyakinan kita bahwa sebagai ‘hakim’ yang adil, emas tetap berperilaku adil sebagai pengukur nilai barang-barang dalam situasi apapun – termasuk dalam situasi resesi dunia.
Menurut Imam Ghazali, Emas ibarat cermin – dirinya sendiri tidak memiliki nilai tetapi dapat dengan akurat mencerminkan nilai dari benda-benda lainnya. Wallhu A’lam.
(http://www.geraidinar.com/)
Mengenai timbangan yang adil ini pernah saya tulis dalam beberapa tulisan saya, antara lain tulisan tanggal 30 April 2008 ; demikian pula masalah resesi juga pernah saya tulis antara lain pada tulisan tanggal 01 Mei 2008 .
Kali ini saya akan menggabungkan keduanya untuk menjawab pertanyaan : tetap adilkah emas untuk menentukan harga barang dalam situasi resesi ?. Pertanyaan ini mengemuka karena istilah resesi bahkan stagflasi (stagnasi dan inflasi – lihat tulisan saya tanggal 27 Feb 2008 ) ramai dibicarakan para pelaku usaha di dunia saat ini.
Secara teknis sebenarnya definisi resesi adalah apabila terjadi pertumbuhan negatif dari GDP suatu negara dalam dua kwartal berturut-turut. Namun karena indikator GDP ini tidak sepenuhnya akurat maka berbagai pihak berusaha untuk mendeteksi resesi ini secara lebih akurat/ dini; agar dapat mengambil langkah-langkah perbaikan sebelum semuanya menjadi terlalu sulit.
Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) yang mendifinisikan bahwa resesi adalah ” Penurunan aktifitas ekonomi secara significant yang menyebar secara luas dan berlangsung beberapa bulan..” ; maka menurut definisi ini bisa saja saat ini kita sedang berada dalam kondisi resesi.
Dengan menggunakan definisi resesi dari NBER ini, World Gould Council (WGC) dua hari lalu mengeluaarkan hasil risetnya tetang perilaku harga emas pada masa-masa resesi.
Berdasarkan kriteria resesi dari NBER, dunia telah mengalami 5 kali resesi (6 kali apabila yang sekarang juga dimasukkan sebagai resesi) sejak tahun 1971 – tahun dimana dunia melepaskan diri dari emas sebagai standar mata uang.
Hasil penelitian menguatkan keyakinan kita bahwa sebagai ‘hakim’ yang adil, emas tetap berperilaku adil sebagai pengukur nilai barang-barang dalam situasi apapun – termasuk dalam situasi resesi dunia.
Menurut Imam Ghazali, Emas ibarat cermin – dirinya sendiri tidak memiliki nilai tetapi dapat dengan akurat mencerminkan nilai dari benda-benda lainnya. Wallhu A’lam.
Labels: resesi, World Gold Council